Jasa website Judi online 288techno.com - Aku
seorang pria berusia 40 tahun, wiraswastawan, dan bukan seorang
petualang sex yang mencari cari hubungan sex dimana mana. Kejadian yang
aku alami kira kira dua tahun yang lalu ini adalah suatu kebetulan
belaka, meskipun harus kuakui bahwa aku sangat menikmatinya dan kadang
berharap dapat mengulanginya lagi.
Pekerjaanku membuatku banyak bertemu dengan ibu-ibu rumah tangga
ditempat kediaman mereka. Beberapa langganan lama kadang menemuiku
dengan masih berpakaian tidur ataupun daster. Pakaian tersebut kadang
cukup minim dan tipis dan sering memperlihatkan tubuh si pemakai yang
sering tanpa BH, maklum mereka kadang kadang belum mandi dan merias diri
karena aku menemui mereka pagi-pagi untuk mengejar waktu.
Salah satu pelangganku setiaku, sebut saja Bu Linda, seorang Ibu rumah
tangga berusia 40 tahunan, memintaku untuk datang ke tempatnya di suatu
kompleks apartemen di bilangan Jakarta Barat. Seperti biasa aku datang
pagi pagi pada hari yang dijanjikan. Bu Linda adalah pelanggan lamaku
dan hubungan kami sudah cukup akrab, lebih sebagai teman dan bukan
hubungan bisnis semata. Hari itu Bu Linda menemuiku dengan memakai
daster longgar berdada agak rendah, panjangnya setengah paha, jadi cukup
pendek.
Beliau adalah seorang wanita yang cukup cantik, berkulit putih bersih
(Chinese), langsing dengan pinggul lebar, pantat yang menonjol dan dada
yang sedang sedang saja. Wanita yang menarik dan sangat ramah. Tapi ini
bukanlah yang pertama kalinya ia menemuiku dalam pakaian seperti itu,
bahkan pernah dengan pakaian tidur yang sangat tipis dan sexy, entah
sengaja atau tidak, yang jelas, selama ini beliau tidak pernah
menunjukkan tingkah laku yang mengundang ataupun berbicara hal hal yang
menjurus. Dan akupun tidak pernah mencoba untuk melakukan tindakan yang
mengarah kesitu, maklum, bukan gayaku, meskipun harus kuakui bahwa aku
sering ingin juga melakukannya. Seperti biasa kami duduk disofa berhadap
hadapan dan membicarakan bisnis.
Setelah urusan bisnis selesai kami bercakap cakap seperti layaknya
antar teman, tapi kali ini pandanganku sering tertuju kearah pahanya.
Karena dia duduk dengan menyilangkan kaki maka hampir seluruh pahanya
terpampang dengan jelas di hadapanku, begitu putih dan mulus. Bahkan
kadang kadang sekilas terlihat celana dalamnya yang berwarna biru muda
pada saat ia mengganti posisi kakinya. Dan yang lebih menggoda lagi, aku
dapat melihat buah dadanya yang tidak terbungkus BH kalau beliau
menunduk, meskipun tidak seluruhnya namun kadang aku dapat melihat
pentilnya yang berwarna coklat tua.
Sejak 4 hari aku tidak melakukan hubungan sex karena istriku sedang
haid, padahal biasanya kami melakukannya hampir setiap hari. Karena itu
aku berada dalam keadaan tegangan yang cukup tinggi. Pemandangan
menggoda dihadapanku membuat aku agak gelisah. Gelisah karena kepingin,
pasti, tapi gelisah terutama karena kontolku yang mulai ngaceng agak
terjepit dan sakit. Disamping itu aku tidak ingin Bu Linda memperhatikan
keadaanku. Hal ini membuat aku jadi salah tingkah, terutama karena
kontolku sekarang sudah ngaceng penuh dan sakit karena terjepit.
Aku ingin memohon diri, tapi bagaimana bangun dengan kontol yang
ngaceng, pasti kelihatan. Sungguh situasi yang tidak mengenakkan. Bangun
salah, dudukpun salah. Tiba tiba Bu Linda berkata, “Pak Yan (kependekan
dari Yanto, namaku), kontolnya ngaceng ya?” Aku seperti disambar petir.
Bu Linda yang selama ini sangat ramah dan sopan menanyakan apakah
kontolku ngaceng, membuatku benar benar tergagap dan menjawab, “E.. iya
nih Bu, tahu kenapa.” Bu Linda tersenyum sambil berkata, “Baru lihat
paha saya sudah ngaceng, apa lagi kalau saya kasih lihat memek saya,
bisa muncrat tuh kontol. Ngomong ngomong kontolnya engga kejepit tuh
Pak?” Kali ini aku sudah siap, atau sudah nekat, entahlah, yang jelas
aku segera berdiri dan membetulkan posisi kontolku yang dari tadi agak
tertekuk dan berkata, “Mau dong Bu lihat memeknya, entar saya kasih
lihat kontol saya dah.” Bu Linda pun berdiri dan mengulurkan tangannya
kearah kontolku, memegangnya dari luar celana dan meremas remas
kontolku, lalu berkata, “Bener nih, tapi lihat aja ya, engga boleh
pegang.” Kemudian beliau melangkah mundur selangkah, membuka dasternya
dan kemudian celana dalamnya dan berdiri dalam keadaan telanjang bulat
dua langkah dihadapanku. Kemudian ia duduk kembali kali ini dengan
mengangkangkan kakinya lebar lebar sambil berkata, “Ayo buka celananya
Pak, saya ingin lihat kontol Bapak.” Sambil membuka pakaianku aku
memperhatikan tubuh Bu Linda.
Teteknya berukuran sedang, 36 B, putih dan membulat kencang,
pentilnya coklat tua dan agak panjang, mungkin sering dihisap, maklum
anaknya dua, lalu selangkangannya, bersih tanpa selembar bulupun, total
dicukur botak, sungguh kesukaanku karena aku kurang suka memek yang
berbulu banyak, lebih suka yang botak. Lalu bibir memeknya juga cukup
panjang berwarna coklat muda, membuka perlahan lahan memperlihatkan
lubang memek yang tampak merah muda dan berkilatan, agaknya sudah
sedikit basah. Yang paling mengagumkan adalah itilnya yang begitu besar,
hampir sebesar Ibu jariku, kepala itilnya tampak merah muda menyembul
separuh dari kulit yang menutupinya, seperti kontol kecil yang tidak
disunat, luar biasa, belum pernah aku melihat itil sebesar itu.
Tangan Bu Linda mengusap usap bagian luar memeknya perlahan lahan,
kemudian telunjuknya masuk perlahan lahan kedalam lubang memek yang
sudah merekah indah dan perlahan lahan keluar masuk seperti kontol yang
keluar masuk memek. Sementara tangan yang satu lagi memegang itilnya
diantara telunjuk dan ibu jari dan memilin milin itilnya dengan cepat.
Akupun tidak mau kalah dan mengusap usap kepala kontolku yang 14 cm,
kemudian menggenggam batangnya dan mulai mengocok sambil terus
memperhatikan Bu Linda. Bu Linda mulai mendesah desah dan memeknyapun
mulai menimbulkan suara berdecak decak karena basah, tampak air memek
yang berwarna putih susu mengalir sedikit membasahi selangkangannya.
Kami onani sambil saling memperhatikan. Sungguh tidak pernah kusangka
bahwa onani bareng bareng seorang wanita rasanya begitu nikmat.
Saat hampir nyemprot, aku menahan kocokanku dan menghampiri Bu Linda
yang terus menusuk nusuk memeknya dengan cepat. Aku berjongkok
dihadapannya dan lidahkupun mulai menjilati memeknya. Bu Linda mencabut
jarinya dan membiarkan aku menjilati memeknya, tangannya meremas remas
kedua teteknya dengan keras. Aku menjulurkan lidahku kedalam lubang
memek yang menganga lebar dan menusuk nusukkan lidahku seperti ngentot,
Bu Linda mulai mengerang dan tak lama beliau menarik kepalaku kearah
selangkangannya membuat ku sulit bernapas karena hidungku tertutup
memek, kemudian terasalah memeknya berkedut kedut dan bertambah basah.
Rupanya Bu Linda sudah memperoleh orgasme pertamanya. Tapi aku tidak
puas dengan hanya menjilati lubang memeknya, sasaranku berikutnya adalah
si itil besar.
Mula mula kujilat jilat kepala itil yang menyembul dari kulit itu,
lalu kumasukkan seluruh itilnya kemulutku dan mulailah aku menyedot
nyedot sang itil. Belum pernah aku begitu merasakan itil di dalam mulut
dengan begitu jelas, dalam hatiku berpikir, “Begini rupanya ngisep
‘kontol kecil’”. Maklum itilnya benar benar seperti kontol kecil. Bu
Linda mengerang erang dan menggoyang goyangkan pinggulnya kekiri kekana
sehingga aku terpaksa menahan pinggulnya dengan tanganku supaya sang
itil tidak lepas dari hisapanku. Tidak lama beliau mengeluarkan lenguhan
yang keras dan memeknya pun kembali berdenyut denyut dengan keras, kali
ini dengan disertai cairan putih susu yang agak banyak. Rupanya orgasme
kedua telah tiba. Aku melepaskan itilnya dari mulutku dan mulai
menjilati cairan memeknya sampai bersih. Sungguh nikmat rasanya.
Bu Linda tergolek dengan lemasnya seperti balon yang kurang angin.
Akupun berdiri dan mulai mengocok ngocok lagi kontolku yang sudah begitu
keras dan tegang. Mata Bu Linda mengikuti setiap gerakan tanganku
mempermainkan kontolku. Saat aku hampir mencapai orgasme, kudekatkan
kontolku ke mukanya dan Bu Linda segera membuka mulutnya dan menghisap
kontolku dengan lembutnya.
Aku sungguh tidak sanggup lagi bertahan karena hisapannya yang begitu
nikmat, maka akupun menyemprotkan air maniku di mulutnya. Rasanya belum
pernah aku menyemprot senikmat itu dan kontolku seolah olah tidak mau
berhenti menyemprot. Begitu banyak semprotanku, tapi tidak tampak
setetespun air mani yang keluar dari mulut Bu Linda, semuanya ditelan
habis. Sejak itu kami selalu onani bareng kalau bertemu, dan percaya
atau tidak, aku belum pernah memasukkan kontolku kedalam memeknya.
Kami sudah sangat puas dengan ngocok bersama sama. Sayangnya beliau
sekeluarga pindah keluar negri sehingga aku sekarang kehilangan temen
ngocok bareng. Tapi kenangan itu tetap ada di hatiku. Mungkin ada
diantara ibu-ibu atau pasangan yang suka ngocok bareng denganku,
silahkan kirim e-mail, pasti akan kubalas. Percayalah, lebih nikmat
ngocok bareng dari pada sendiri sendiri.
Demikianlah Cerita Dewasa tentang Seks Ibu rumah tangga yang panas,
Seks Ibu rumah tangga yang berumur 40 tahun dengan pria yang juga
berumur 40 tahun, selingkuh dan terlibat hubungan seks dengan tanpa
disengaja dan berlanjut dengan disengaja, kini Seks Ibu rumah tangga tak
cuman ibu muda, ibu umur 40 tahun juga bisa mengalami Seks Ibu rumah
tangga.
Selasa, 17 Oktober 2017
Home »
CERITA DEWASA
,
CERITA ITIL
,
CERITA KONTOL
,
CERITA MEMEK
,
CERITA MESUM
,
CERITA NGENTOT
,
CERITA SEKS
» Lalu kumasukkan seluruh itilnya kemulutku dan mulailah aku menyedot nyedot sang itil







0 komentar:
Posting Komentar