Jasa website Judi online 288techno.com | Malam
telah larut dan jam telah menunjukan pukul 9 malam. Sedari siang tadi
kakakku bersama suaminya menghadiri pertemuan sebuah Network Marketing
dan diteruskan dengan pertemuan khusus para leaders.Untuk menghilangkan
suntuk, aku connect ke internet dan berbagai macam situs aku buka,
seperti biasa pasti terdapat banyak situs porno yang
asal nyrobot. Biasanya aku langsung close karena aku enggak enak dengan
kakakku, tetapi malam ini mereka tidak ada dirumah, hanya bersama
dengan seorang baby siters keponakanku, namanya Imah baru berumur 18
Tahun dan berasal dari Wonosobo. Memang agak kolotan dan dusun sekali,
tetapi kalau aku perhatikan lagi Imah memiliki body yang lumayan bagus
dengan wajah yang tidak terlalu jelek.
Kami
biasa mengobrolkan acara tivi atau terkadang Im-im (panggilan Imah
sehari-hari) aku ajari internet meskipun hasilnya sangat buruk. Entah
kenapa malam ini keinginanku untuk melihat situs porno sangat besar dan
libidoku naik saat aku lihat foto-foto telanjang di internet, tanpa aku
sadari Im-im keluar dari kamar dan berjalan ke arahku entah sudah berapa
lama dia berdiri disampingku ikut memperhatikan foto-foto telanjang
yang ada di monitor komputer.
“Apa
enggak malu ya..?” tanya Im-im yang membuatku kaget dan segera aku
ganti situsnya dengan yang “normal”. Dengan berusaha tenang, aku minta
Imah mengulangi pertanyaannya.
“Itu lho tadi, gambar cewek telanjang yang Mas buat, emangnya nggak malu kalau dilihat orang?”
Memang Imah sangat lugu dan ndusun kalau soal beginian. Dengan santai aku jawab sembari menyuruhnya duduk disebelahku.
“Begini
Im, ini foto bukan aku yang buat, orang yang buat ini (sambil aku
perlihatkan lagi situs yang memuat foto telanjang tadi), merekakan model
yang dibayar jadi ngapain malu kalau dapat duit.”
Kemudian
Im-im melihat lebih seksama satu per satu foto telanjang itu dengan
posisi badan agak membungkuk sehingga terlihat jelas bulatan kenyal
panyudaranya, sudah sejak lama aku menikmati pemandangan ini dan aku
sangat terobsesi untuk tidur dengan Im-im. Aku tersentak kaget saat Imah
bertanya soal foto dimana seorang cowok sedang menjilati vagina cewek.
“Apa nggak geli ceweknya dijilati kayak gitu terus lagian mau-maunya cowok itu jilatin punya ceweknya padahalkan tempat pipis?”.
Dengan otak yang sudah kotor aku mulai berfikir bagaimana aku memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.
“Gini
Im, vaginanya cewek kalau dijilatin oleh cowok malah enak, memang
awalnya geli tapi lama-lama ketagihan ceweknya. Kamu belum pernah coba
kan?” tanyaku pada Im-im sambil tanganku membuka foto-foto yang lebih
hot lagi.
“Belum
pernah sama sekali, tapi kalau ciuman bibir dan susuku diremes sudah
pernah, aku takut kalau nanti hamil”. (memang Im-im sangat terbuka
tentang pacarnya yang di Bogor dan pernah suatu hari cerita kalau
pacarnya ngajak tidur di hotel tapi Im-im nggak mau).
“Kalau
Cuma kayak gitu nggak bakal bikin hamil, gemana kalau kamu coba, nanti
kalau kamu hamil aku mau tanggungjawab dan nggak perlu bingung soal
uang, terus kalau ternyata kamu nggak hamil, kamu nanti aku ajari
gaya-gaya yang ada difoto ini. Gimana?”
Dan
Im-im cuma diam sambil lihatin wajahku, sebenarnya aku tahu dia naksir
aku sudah lama tapi karena posisi dia hanya babysiters yang membuatnya
nggak PD.
“Benar ya.., janji lho?” pintanya dengan sedikit ragu.
Dan
dengan wajah penuh semangat aku bersumpah untuk menepati janjiku,
meskipun aku enggak ada niat untuk menepati janjiku. Aku putuskan
sambungan internet dan mulai “melatih” Im-im dengan diawali teknik
berciuman yang sudah pernah dia rasakan dengan pacarnya, sentuhan halus
bibirnya yang lembut membuatku membalas dengan ganas hingga tanpa terasa
tanganku telah meremas payudara Imah yang memang masih kencang. Desahan
halus mulai muncul saat bibirku menelusuri lehernya yang agak berbulu
seolah Im-im menikmati semua pelatihan yang aku berikan.
Aku
merasa cumbuan ini kurang nyaman, aku dan Imah pindah ke dalam kamar
Im-im, perlahan aku rebahkan tubuhnya dan bibirku bergantian menjelajah
bibir dan lehernya sedangkan tanganku berusaha membuka kaos dan BH-nya
dan kini separoh tubuh Imah telah bugil membuat libidoku tidak karuan.
Tanpa ada keluhan apapun Imah terus mendesah nikmat dan tangannya
membimbing tangan kiriku meremas teteknya yang bulat sedangkan payudara
kanannya aku lumat dengan bibirku hingga terdengar jeritan kecil Im-im.
Entah berapa lama aku mencumbu bagian atas tubuhnya dan sebenarnya
keinginanku untuk bercinta sudah sangat besar tetapi aku tahu ini bukan
saat yang tepat.
Perlahan
aku turunkan celana pendek dan celana dalamnya bersama hingga Imah
sepenuhnya bugil dan ini yang membuat dia malu. Untuk membuat Imah tidak
merasa canggung aku mencumbunya lebih ganas lagi sehingga kini Imah
mendesah lebih keras lagi dan tangan kanannya meremas kaosku untuk
menyalurkan gairahnya yang mulai memuncak. Bibirku kini mulai menjalar
kebawah menuju vaginanya yang tertutup kumpulan bulu hitam, perlahan aku
angkat kedua pahanya hingga posisi selakangannya terlihat jelas.
Samar-samar terlihat lipatan berwarna merah di vaginanya dan aku tahu
baru aku yang melihat surga dunia milik Im-im.
Kini
bibirku mulai menjilati vaginanya yang mulai banjir dengan halus agar
Im-im tidak merasa geli dan ternyata rencanaku berjalan lancar, desahan
yang tadi menghiasi cumbuanku dengan Imah kini mulai diselingi lenguhan
dan jeritan kecil yang menandakan kenikmatan luar biasa yang sedang
dirasakan babysiters keponakanku. Semakin lama semakin banyak lendir
yang keluar dari kemaluannya yang membuatku lebih bergairah lagi,
tiba-tiba seluruh tubuh Imah kejang dan suara lenguhannya menjadi gagap
sedangkan kedua tangannya meremas kuat kasurnya. Dengan diiringi
lenguhan panjang Imah mencapai klimak, tubuhnya bergerak tidak beraturan
dan aku lihat sepasang teteknya mengeras sehingga membuatku ingin
meremasnya dengan kuat. Setelah kenikmatannya perlahan turun seiring
tenaganya yang habis terkuras membuat tubuhnya yang bugil menjadi
lunglai, dengan kepasrahannya aku menjadi sangat ingin segera menembus
vaginanya dengan penisku yang sedari tadi sudah tegang.
“Imah merasa sangat aneh, bingung aku jelasin rasanya” katanya dengan perlahan.
“Belum
pernah aku merasakan hal ini sebelumnya, aku takut kalau terjadi
apa-apa,” sambil memelukku erat. Sambil kukecup keningnya, aku jawab
kekhawatiranya.
“Ini
yang disebut kenikmatan surga dunia dan kamu baru merasakan sebagian.
Imah nggak perlu takut atau khawatir soal ini, kan aku mau tanggungjawab
kalau kamu hamil,” sambil kubalas pelukannya.
Sekilas
aku lupa libidoku dan berganti dengan perasaan ingin melindungi seorang
cewek, kemudian tanpa disengaja tangan Im-im menyentuh penisku sehingga
membuat penisku kembali menegang. Wajah Imah tersipu malu saat aku
lihat wajahnya yang memerah, kucium bibirnya dan tanpa menunggu
komandoku Im-im membalasnya dengan lebih panas lagi dan kini Imah
terlihat lebih PD dalam mengimbangi cumbuanku. Teteknya aku remas dengan
keras sehingga Im-im mengerang kecil. Kini bajuku dibuka oleh sepasang
tangan yang sedari tadi hanya mampu meremas keras kasur yang kini sudah
acak-acakan spreinya dan aku imbangi dengan melepas celana pendekku dan
segera terlihat penis yang sudah tegang karena aku terbiasa tidak
memakai CD saat dirumah. Melihat pemandangan itu, Imah malu dan menjadi
sangat kikuk saat tangannya aku bimbing memegang penisku dan setelah
terbiasa dengan pemandangan ini aku membuat gaya 69 dengan Imah berada
diatas yang membuatnya lebih leluasa menelusuri penisku.
Setelah
beberapa lama aku bujuk untuk mengulumnya, akhirnya Im-im mau melakukan
dan menjadi sangat menikmati, sedangkan aku terus menghujani vaginanya
dengan jilatan lidahku yang memburunya dengan ganas. Karena tidak kuat
menahan rasa nikmat yang menyerang seluruh tubuhnya, Im-im tak mampu
meneruskan kulumannya dan lebih memilih menikmati jilatan lidahku di
vaginanya dan aku tahu Imah menginginkan kenikmatan yang lebih lagi
sehingga tubuh bugilnya aku rebahkan sedangkan kini tubuhku menindihnya
sembari aku teruskan bibirku menjelajahi bibirnya yang memerah.
Perlahan
tanganku menuntun tangan kanan Im-im untuk memegang penisku hingga
berada tepat di depan mulut vaginanya, aku gosok-gosok penisku di
lipatan vaginanya dan mengakibatkan sensasi yang menyenangkan, erat
sekali tangannya memelukku sambil telus mengerang nikmat tanpa
memperdulikan lagi suaranya yang mulai parau. Vaginanya semakin basah
dan perlahan penisku yang tidak terlalu besar mendesak masuk ke dalam
vaginanya dan usahaku tidak begitu berhasil karena hanya bisa memasukkan
kepala penisku. Perlahan aku mencoba lagi dan dengan inisiatif Im-im
yang mengangkat kedua kakinya hingga selakangannya lebih terbuka lebar
yang membuatku lebih leluasa menerobos masuk vaginanya dan ternyata
usahaku tidak sia-sia. Dengan sedikit menjerit Imah mengeluh,
“Aduh..,
sakit. Pelan-pelan dong” dengan terbata-bata dan lemah kata-kata yang
keluar dari mulutnya. Saat seluruh penisku telah masuk semua, aku diam
sejenak untuk merasakan hangatnya lubang vaginanya.
Perlahan
aku gerakkan penisku keluar-masuk liang vaginanya hingga menjadi lebih
lancar lagi, semakin lama semakin kencang aku gerakkan penisku hingga
memasuki liang paling dalam. Berbagai rancauan yang aku dan Imah
keluarkan untuk mengekspresikan kenikmatan yang kami alami sudah tidak
terkendali lagi, hampir 15 menit aku menggenjot vaginanya yang baru
pertama kali dimasuki penis hingga aku merasa seluruh syaraf
kenikmatanku tegang. Rasa nikmat yang aku rasakan saat spermaku keluar
dan memasuki lubang vaginanya membuat seluruh tubuhku menegang, aku
lumat habis bibirnya yang memerah hingga Im-im dan kedua tanganku
meremas teteknya yang mengeras. Akhirnya aku bisa merasakan tubuh Im-im
yang lama ada dianganku.
Kami
berdua tergolek lemah seolah tubuhku tak bertulang, kupeluk tubuh Imah
dengan erat agar dia tidak galau dan setelah tenagaku pulih aku berusaha
memakaikan baju padanya karena Im-im tidak mampu berdiri lagi. Saat aku
hendak mengenakan CD aku lihat sedikit bercak merah dipahanya dan aku
bersihkan dengan CD ku agar Im-im tidak tahu kalau perawannya sudah aku
renggut tanpa dia sadari.
Kami
berdua melakukan hal itu berulangkali dan Imah semakin pintar
memuaskanku dan selama ini dia tidak hamil yang membuatnya sangat PD.
Tanpa disadari 2 tahun aku menikmati tubuhnya gratis meskipun kini Imah
tidak menjadi babysiters keponakanku sebab kakakku telah pindah rumah
mengikuti suaminya yang dipindah tugaskan ke daerah lain. Sekarang Im-im
menjadi penjaga rumahku dan sekaligus pemuas nafsuku saat pacar-pacarku
tidak mau aku ajak bercinta.
Saat
lebaran seperti biasa Imah pulang kampung selama 2 minggu dan yang
membuatku kaget dia membawa seorang cewek sebaya dengan Imah dan bernama
Dina yang merupakan sepupunya. Memang lebih cantik dan lebih seksi dari
Imah yang membuatku berpikir kotor saat melihat tubuh yang dimiliki
Dina yang lugu seperti Imah 2 tahun lalu. Pada malam harinya, setelah
kami melepas rasa kangen dengan bercinta hampir 2 jam, Imah tiba-tiba
menjadi serius saat dia mengutarakan maksudnya.
“Mas,
aku sudah 2 tahun melayani Mas untuk membereskan urusah rumah dan juga
memberikan kepuasan diranjang seperti yang aku berikan saat ini,” Imah
terdiam sejenak.
“Aku ingin tahu, apakah ada keinginan Mas untuk menikahiku meskipun sampai saat ini aku tidak hamil. Apa Mas mau menikahiku?”
Aku
terhenyak dan diam saat disodori pertanyaan yang tidak pernah terlintas
sedikitpun selama 2 tahun ini. Lama aku terdiam dan tidak tahu mau
berkata apa dan akhirnya Imah meneruskan perkataannya.
“Imah
tahu kalau Mas nggak ada keinginan untuk menikahiku dan aku nggak
menuntut untuk menjadi suamiku, 2 tahun ini aku merasa sangat bahagia
dan sebelum itu aku telah mencintai Mas dan menjadi semakin besar saat
aku tahu Mas sangat perhatian denganku.”
Imah terdiam lagi dan aku memeluknya erat penuh rasa sayang dan Imah pun membalas pelukanku.
“Tapi..,
aku ingin lebih dari ini. Aku ingin bisa menikmati cinta dan kasih
sayang seorang suami dan itu yang membuatku menerima pinangan seorang
pria yang rumahnya tidak jauh dari desaku.” Aku terhenyak dan menjadi
lebih bingung lagi dan belum bisa menerima kabar yang benar-benar
mengagetkanku.
Kami
berdua hanya bisa diam dan tanpa terasa meleleh air mataku dan aku baru
merasa bahwa aku ternyata benar-benar menginginkannya, namun ternyata
sudah terlambat. Keesokan harinya aku mengantar Imah ke terminal untuk
kembali pulang ke desanya dan menikah dengan seorang duda tanpa anak,
menurutnya calon suaminya akan menerimanya meskipun dia sudah tidak
perawan. Dengan langkah gontai aku kembali ke mobilku dan melalui
hari-hariku tanpa Imah
Sabtu, 26 Agustus 2017
Home »
CERITA DEWASA
,
CERITA ITIL
,
CERITA KONTOL
,
CERITA MEMEK
,
CERITA MESUM
,
CERITA NGENTOT
,
CERITA SEKS
» “Aduh.., sakit. Pelan-pelan dong”







0 komentar:
Posting Komentar